AHY Sudah Game Over, Jangan... Jangan Di Bully Lagi......

Ada pro dan kontra pada dua tulisan saya mengenai AHY dan SBY usai gelaran pilkada DKI Jakarta jilid satu. Saya dianggap telah membully habis AHY setelah kekalahannya. Mengolok-olok masa depannya. Saya juga dianggap tidak menghargai doa-doa AHY yang ia lakukan secara khusus di aksi 112 dan di tanah suci sebelum tanggal pencoblosan. Bahkan saya dikatain iblis dan didoakan agar saya mendapat hidayah. Ampun ka Ema…

AHY Sudah Game Over, Jangan... Jangan Di Bully Lagi......
KOMPAS METRO - Ada pro dan kontra pada dua tulisan saya mengenai AHY dan SBY usai gelaran pilkada DKI Jakarta jilid satu. 

Saya dianggap telah membully habis AHY setelah kekalahannya. Mengolok-olok masa depannya. Saya juga dianggap tidak menghargai doa-doa AHY yang ia lakukan secara khusus di aksi 112 dan di tanah suci sebelum tanggal pencoblosan. Bahkan saya dikatain iblis dan didoakan agar saya mendapat hidayah. Ampun ka Ema…

Untuk itu semua, saya merasa perlu mengklarifikasi dan mengadakan konfrensi pers(onal) melalui tulisan ini. Emang pak mantan dan Antasari saja yang bisa konfrensi pers.

Yang pertama mengenai membully habis AHY setelah apa yang menimpanya saat ini dengan gagal di pilkada DKI Jakarta. Saya merasa hal ini (bully) wajar. Ini adalah pertarungan public yang disaksikan oleh jutaan orang, dengan jutaan pendapat pula. Di samping itu, AHY ini bagi saya terkesan sombong. Itu terlihat dari tidak mau datang ketika diundang debat di stasiun tv nasional. Ia malah bilang nanti akan ada kejutan di debat resmi KPU.

Eh, pas debat resmi KPU tidak ada sama sekali kejutan yang ditunjukan AHY selain dari hafalan kertasnya. Kan asemm…saya sudah menunggu dengan laptop di pangkuan tetapi tidak ada kejutan yang AHY tampilkan, hingga laptop saya mati kehabisan batrai tanpa ada satu katapun yang tertulis. Hei bung, ini debat untuk pemilihan pemimpin Jakarta, bukan debat cerdas cermat.

Dan lihat saja ketika diundang diprogram mata najwa, ketika ditanya oleh Najwa “apakah kalau bukan karena anda anak SBY anda akan diusung menjadi calon gubernur oleh partai pengusung? AHY menjawab “menurut anda bagaimana?” Dan begitu seterusnya AHY mengelak menjawab pertanyaan itu. Lu anak baru aja belagu..mungkin itu kata Najwa dalam hati.

Selepas acara Mata Najwa itu tak ada satupun undangan debat di stasiun tv yang diterima AHY. Entah itu strategi atau apa tapi bagi saya itu blunder dan kesombongan negatif. Seharusnya sebagai new comer AHY lebih banyak tampil di debat tidak resmi. Tujuannya agar ia punya jam terbang bagaimana mengkomunikasikan program yang baik kepada masyarakat luas dalam waktu yang sangat-sangat terbatas. Terbuktikan tiga jilid debatpun tidak membuat AHY tampil apik dalam menyampaikan programnya.

Faktanya AHY kalah dan masih saja dibully, itu resiko. Dan ia dengan jiwa ksatria menerima kekalahannya itu istimewa. Dan memang harus begitu sebagai seorang mantan TNI. Hillary Clinton saja yang perempuan pidato menerima kekalahannya di pilpres Amerika dan datang ke pelantikan Trump menjadi presiden Amerika.

Tapi sudahlah. Bagi saya kesalahan terbesar AHY ada di SBY. SBY sama sekali tak memberi AHY kesempatan untuk “mempersiapkan diri” dengan baik sebelum terjun ke dunia politik. Akibatnya AHY harus “membela diri” dengan segala daya upaya sembari mempertahankan harga dirinya. Kesalahan AHY adalah ia terlalu nurut pada kemauan sang ayah. Saya pun tentu akan bangga kalau Indonesia punya tentara yang pintar seperti AHY, yang hingga akhirnya menjadi jendral yang berprestasi dan berkontribusi lebih untuk kemajuan dunia militer Indonesia.

Saya melihat foto AHY sekarang dengan ketika dia masih aktif di TNI sungguh berbeda. Aura semangat kebanggaan atas seragam TNI yang terpancara tulus di wajahnya kini berubah dengan potret wajah yang penuh beban, senyum yang seakan dipaksakan. Tetapi tentu saja, hanya AHY yang tahu apa yang dia rasa. Saya hanya melihat dengan versi saya saja. Dan kini ia sudah memilih jalan hidupnya. Dan ia kalah di pilkada DKI Jakarta 2017. Itu saja.

Kedua: mengolok-olok masa depannya setelah kekalahannya di Pilkada DKI Jakarta 2017. Tidak. Saya tidak mengolok-olok masa depannya. Siapakan saya ini yang berani mengolok-olok masa depan AHY. Saya rakyat jelata, bung. Tetapi bukan rakyat pengeran Ibas lo ya. Saya rakyat pak Jokowi.

AHY tidak kerja saja lo uangnya banyak. Belum lagi uang dari sang ayah yang jumlahnya tak terkira. Untuk mengusung dan kampanya AHY aja rela keluar milyaran, apalagi untuk kebutuhan AHY. Gampang mah itu. Lagi pula AHY ini pintar dan lulusan terbaik TNI, tak sulit baginya mencari pekerjaan dengan gaji jutaan.

Jika ada pembaca yang menilai saya mengolok-olok masa depan AHY setelah kegagalannya, bisa saya pastikan itu benar adanya. Eh maksud saya itu tidak benar sama sekali. Saya bilang AHY resmi menjadi pengangguran itu faktakan. Justru hoax kalau saya bilang setelah kalah di pilkada DKI Jakarta AHY menjadi ketua umum partai Demokrat. Pemilihan ketua umumkan belum jadwalnya. Iyakan? Dan sekarang AHY bisa bangun siang, santai, bercengrama dengan sang anak dan istri. Tidak lagi berpanas ria kampanye. Jadi tidak benar ya saya mengolok-olok masa depan AHY. Apa yang saya sampaikan adalah fakta. Oleh sebab itu saya bukan iblis, kak Ema.

Ketiga mengejek doa AHY baik di Istiqlal maupun di tanah suci. Tidak benar kalau saya mengejek doa AHY. Itu hoax. Saya merasa difitnah. Tolong jangan pelintir perkataan saya. Jangan ya, jangan. Kita harus melihat secara menyeluruh proses dari AHY dicalonkan dan diusung menjadi calon gubernur Jakarta sampai pada waktu pencoblosan. Ada begitu banyak rangkaian peristiwa yang tidak baik terjadi demi AHY dan kekuasaan SBY yang dilakukan oleh SBY. Bahkan seorang Anas Urbaningrum melihat ketidakbaikan itu. SBY berlaku tidak jujur dalam upaya memenang AHY. Ia melakukan segala cara yang salah satunya dicurigai Anas Urbaningrum adalah memobilisasi massa Islam untuk meraup suara.

Jadi inti dari yang saya bahasakan itu adalah bahwa Tuhan tidak boleh diajak pilkada. Selain karena tidak etis juga karena Tuhan tidak punya partai. Jangan tunjukan sikap agamis berlebih demi kepentingan politik. Bukan mengejek doa AHY karena Tuhan tidak mengabulkan doanya sehingga dia harus kalah di putaran pertama pilkada DKI Jakarta. Baca lagi tulisan saya itu dengan baik dan pelan-pelan. Jangan kesusu.

Sangat jelas saya katakan bahwa “Dari kekalahan ini mungkin Tuhan mau bilang kalau AHY harusnya mulai dari level dasar, yaitu pemilihan tingkat RT, baru kepala desa, camat, bupati atau wali kota, baru gubernur. Bukan langsung ujug-ujug calon gubernur”. Dan AHY sendiripun dalam konfrensi ketika menanggapi kekalahannya versi quick count mengatakan bahwa semua ini tentu ada hikmahnya. AHY yang selama ini tidak ada waktu buat anak dan istrinya kini punya waktu lebih untuk sekedar bersanti atau berlibur bersama anak istri.

Jadi bukan doanya yang salah. Atau saya mengejek doa AHY. Tetapi rencana Tuhan dengan tidak mengabulkan doa AHY-lah yang saya perhatikan. Bahkan dengan tegas pula saya mengatakan “ Karena Dia Tuhan, bukan pelayan. Ini quot saya sendiri lo. Dan tidak gampang membuatnya. Artikanya jelas bahwa Tuhan bukanlah pelayan yang harus mengabulkan doa-doa kita setiap waktu. Kita ini hamba-Nya, bukan tuan-Nya. Tukan quot lagi. Silahkan jadikan status di fb, saya ijinkan.

Baca juga: Derita Ahmad Dhani, Selebritis Tersesat di Dunia Politik, Gagal Total di Pilkada Bekasi

Doa yang khusuk pun kalau prosesnya tidak baik tidak akan dikabulkan Tuhan. Dan memang AHY ini korban ambisi besar sang ayah. Harusnya pak mantan ini ikut kursus parenting, demikian kata salah satu pembaca tulisa saya itu.

Tentu saja tidak ada yang salah nurut dan mengikuti ambisi besar ayah. Tapi juga harus realistis. Ukur kemampuan diri. Kamu mau disuruh perang dengan jumlah pasukan yang hanya sepuluh orang melawan seribu pasukan lawan? Sparta aja yang gagah berani dengan jumlah pasukan 300 habis juga melawan pasukan lawan tak terkira jumlahnya walau tak gagah.

Berdoa itu sangat baik. Sangat baik. Tidak hanya umat muslim saja yag dianjurkan untuk terus berdoa tiada henti dalam situasi apapun. Umat Kristen, umat Budha, dan Hindu pun demikian seharusnya. Saya pun terkadang berdoa. Dan saya kadang malu berdoa sama Tuhan  Karena di doa saya, saya lebih sering meminta dari pada bersyukur. Saya minta ini minta itu setiap hariiii. Sampe malu sendiri saya. Padahal seharusnya lebih banyak bersyukur dari pada meminta.

Jadi sekian konfrensi pers(onal) ini saya buat dengan sebaik-baik dan sejujur-jujurnya sebagai mahluk berTuhan. Dan bukan mahluk ber-iblis. Stop bully AHY. Kita fokus ke ASan. Salam.

Baca juga: Ditelfon Agus - Sylvi Ucapkan Selamat, Ahok Balas Begini....

Oleh: Yulian
Sumber: Seword.com


Name

Ahmad Dhani,3,Ahok,24,Ahok Tersangka,21,Al-Maidah 51,32,Amerika,4,Anies Baswedan,2,Antasari,2,Anti Korupsi,2,Basuki Tjahaja Purnama,8,Berita,336,BNPT,1,Bogor,3,Buni Yani,12,Buni Yani Tersangka,7,Demo 2 Desember,14,Demo 25 November,1,Demo 4 November,1,Demo Ahok,53,Denny Siregar,1,Densus 88,3,Donald Trump,4,DPR,1,Education,1,Ekonomi,14,Entertainment,18,Fadli Zon,2,Fahri Hamzah,3,Fahri Hazah,1,FPI,5,Gempa Aceh,4,GNPF-MUI,1,Golkar,1,Gus Dur,1,Gus Mus,2,Haul Gus Dur,2,Headlines,50,Health,10,HMI,4,Hoax or Not,11,Indonesia,3,Indonesiana,5,Inspirasi,7,Internasional,47,Internet Positif,1,Iwan Fals,1,Jakarta,77,Jawa Barat,1,Johan Budi,1,Joko Widodo,2,Jokowi,12,Jusuf Kalla,1,KAHMI,1,Kalijodo,1,Kalimantan,1,Kasus,1,Kasus Makar,2,Kemendikbud,1,Kolom,9,Kolom Agama,24,Kolom Humaniora,5,Kolom Pendidikan,1,Kolom Politik,32,KPK,2,Kriminal,2,Kriminalisasi Ulama,1,Life Style,7,Lukman Hakim Saifuddin,1,Metro Channel,2,Mobile,1,Mubahalah,2,Nahdlatul Ulama,4,Nasional,509,Natal,1,News,459,News. Nasional,1,Novel Bamukmin,1,Ojek Online,1,Opini,24,Otomotive,1,Pemilu Amerika,2,Pendidikan,1,Perang Dunia Ke-III,1,Pilgub DKI,9,Pilkada,33,Pilkada 2017,14,Pilkada Bekasi,2,Pilkada DKI,86,Pilkada Jabar,1,Pilkada Jakarta,29,PKS,1,PMII,1,Politik,198,Polri,2,Prabowo,1,Ragam Nusantara,2,Religi,4,Rizieq Shihab,4,RPTRA,1,SBY,8,Science,5,Serba-serbi,6,Setya Novanto,1,Sidang Ahok,12,Sport,4,Sumanto Al-Qurtubi,1,Sumpah Pemuda,1,Surat Terbuka,1,Tekno,20,Terorisme,9,TIK,1,Timnas,1,Tito Karnavian,1,TNI,3,Toleransi,1,Travel,15,Trial,1,TurnBackHoax,1,Video,3,Viral,27,Wawancara,2,
ltr
item
Kompas Metro: AHY Sudah Game Over, Jangan... Jangan Di Bully Lagi......
AHY Sudah Game Over, Jangan... Jangan Di Bully Lagi......
Ada pro dan kontra pada dua tulisan saya mengenai AHY dan SBY usai gelaran pilkada DKI Jakarta jilid satu. Saya dianggap telah membully habis AHY setelah kekalahannya. Mengolok-olok masa depannya. Saya juga dianggap tidak menghargai doa-doa AHY yang ia lakukan secara khusus di aksi 112 dan di tanah suci sebelum tanggal pencoblosan. Bahkan saya dikatain iblis dan didoakan agar saya mendapat hidayah. Ampun ka Ema…
https://4.bp.blogspot.com/-ph8SVUgTgX4/WKZxgxXS5NI/AAAAAAAABEk/dN5G6PvRqM8xYqVkeb1QcilSYjbXMICgwCLcB/s640/AHY.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-ph8SVUgTgX4/WKZxgxXS5NI/AAAAAAAABEk/dN5G6PvRqM8xYqVkeb1QcilSYjbXMICgwCLcB/s72-c/AHY.jpg
Kompas Metro
http://www.kompasmetro.net/2017/02/ahy-sudah-game-over-jangan-jangan-di.html
http://www.kompasmetro.net/
http://www.kompasmetro.net/
http://www.kompasmetro.net/2017/02/ahy-sudah-game-over-jangan-jangan-di.html
true
1123746350529315679
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Selengkapnya Balas Cancel reply Hapus Oleh Beranda Halaman Postingan View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE CARI ALL POSTS Not found any post match with your request KEMBALI KE BERANDA Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy